Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

1. Uang bersama dan Sistem Amplop

Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.

2. Membagi Berdasar Persentase

Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing “menyetor” 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab

Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan “berat”, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?

Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama

Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

Sumber : blog.keuanganpribadi.com

Teknologi Informasi dan Komunikasi kian berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak sekali manfaat dari Teknologi Informasi dan Komunikasi. Peningkatan kualitas hidup dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktivitas yang dibutuhkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Begitu pula dalam bidang Ilmu Keluarga dan Konsumen.

Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seirng perkembangan zaman. Dalam pengembangan ilmu yang tergolong baru di tanah air Indonesia ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi memberikan sumbangan yang sangat besar. Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari sering dijumpai kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet dengan bahan ajar dan topik pembelajaran di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi, pembelajaran dapat diselenggarakan dengan lebih mudah dan lebih baik. Ilmu dan informasi dari lintas negara pun semakin mudah diperoleh. Hal tersebut memberikan konsekuensi yang bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Keluarga dan Konsumen di Indonesia.

Beberapa ilustrasi mengenai manfaat tersebut dapat kita perhatikan dari berbagai kegiatan belajar mengajar dan penugasan dalam pengembangan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Di Institut Pertanian Bogor, khususnya Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, kegiatan belajar mengajar memanfaatkan fasilitas Internet mulai digunakan oleh beberapa dosen. Topik pembelajaran pun sering kali diadaptasi langsung dari artikel-artikel di internet untuk menambah topik bahan ajar. Teknologi Informasi dan Komunikasi juga memungkinkan beberapa dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen membagikan bahan ajar berupa softcopy melalui blog, situs, dan surat elektronik. Penugasan dari dosen pun acap kali dikerjakan dengan menggabungkan berbagai sumber dari Internet.

Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak hanya memungkinkan sivitas akademik di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen mendapatkan input bagi kegiatan-kegiatan pengembangan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Teknologi Informasi dan Komunikasi juga memungkinkan mereka menyalurkan output mereka ke masyarakat. Dengan adanya Internet, hasil penelitian dosen-dosen di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen dapat disebarluaskan ke masyarakat dunia pada umumnya dan terutama pada masyarakat Indonesia. Sharing information sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi. (Riyanto 2005)

Besarnya peran Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi pengembangan Ilmu Keluarga dan Konsumen menuntut sivitas akademik di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen menguasai cara pemanfaatan teknologi tersebut secara optimal. Untuk hal tersebut, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen menjalin kerjasama dengan Departemen Ilmu Komputer dalam hal pembelajaran. Hal ini sangat membantu mahasiswa pada khususnya untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi.

PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA MELALUI

IMMERSION PROGRAMS (LANGUAGE IMMERSION)

Disusun oleh:

Hasna Izdihar (I24080020)

Dosen Pengajar:

Ir. Melly Latifah, MSi.

Neti Hernawati, SP.

DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA MELALUI

IMMERSION PROGRAMS (LANGUAGE IMMERSION)

I. Pengertian dan Sejarah Language Immersion

Language immersion adalah sebuah metode pembelajaran bahasa kedua (disebut juga L2 atau bahasa target) (Anonim 2009a). Metode ini menuntut anak untuk belajar dua bahasa sekaligus. Berbeda dengan metode pembelajaran bahasa kedua secara tradisional yang menuntun anak untuk mempelajari dan menguasai bahasa ibu terlebih dahulu sehingga bahasa target semata-mata sebagai subjek materi, language immersion menggunakan bahasa target sebagai alat pengajaran, mengelilingi anak/murid ke dalam bahasa kedua. Language immersion menuntut aktivitas di dalam kelas seperti matematika, pelajaran sosial, dan sejarah, dan aktivitas di luar kelas seperti waktu istirahat kelas dan PR harian dilakukan dalam bahasa target atau bahasa kedua. Sampai saat ini, kedua metode tersebut masih mendapat pro dan kontra. Bahkan para ahli psikologi pun masih banyak yang berbeda pendapat mengenai metode pembelajaran bahasa kedua yang lebih baik.

Program language immersion bermula dari penemuan di Kanada pada tahun 1960-an. Ketika itu, para orang tua berpendapatan menengah-bawah dan berbicara dalam bahasa Inggris meyakinkan para pendidik (guru) untuk membuat penelitian program immersion bahasa Perancis. Program tersebut diharapkan dapat memungkinkan anak-anak mengapresiasi tradisi dan budaya dari Bangsa Kanada berbahasa Perancis sebaik Bangsa Kanada berbahasa Inggris. Penelitian tersebut sukses dan menjadi dasar berkembangnya program language immersion hingga saat ini.

II. Perkembangan Program Language Immersion

Program language immersion yang sukses di Kanada saat itu kemudian mulai ditiru dan diterapkan di Amerika Serikat. Kelas-kelas language immersion kini dapat ditemukan di seluruh Amerika Serikat, di daerah perkotaan dan pedesaan, dan hampir di penjuru negara di dunia. Bahkan, di Indonesia telah banyak sekolah-sekolah yang berlabel SBI (Sekolah Berstandar Internasional) yang menggunakan language immersion dalam kegiatan belajar mengajar.

Di Amerika, sejak tahun 1980-an, program language immersion telah tumbuh dengan beberapa alasan, yaitu kompetisi pada ekonomi global, pertumbuhan populasi dari pelajar bahasa kedua, dan kesuksesan dari program sebelumnya (Anonim 2009a). Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, language immersion bahkan sudah terinternasionalkan. Telah ada Internationalized Curriculum atau kurikulum internasional yang meleburkan kurikulum dari berbagai negara ke dalam kurikulum bahasa lokal dan memisahkan aspek pembelajaran bahasa dari silabus. Kurikulum internasional ini membuat program language immersion semakin meluas di berbagai penjuru dunia serta semakin mudah dan cepat diterapkan dalam kurikulum pendidikan lokal.

III. Tipe-Tipe Immersion Programs

Banyak program-program language immersion telah dikembangkan sejak penemuan di Kanada. Immersion programs dapat dikategorikan berdasarkan dua hal, yaitu usia dan tingkatan immersion.

A. Jenis-Jenis Immersion Programs Berdasarkan Usia

¶  Early immersion

Pada program early immersion, murid-murid/anak-anak memulai pembelajaran bahasa kedua sejak umur lima atau enam tahun. Di Indonesia, program early immersion diterapkan di beberapa sekolah internasional atau pun sekolah berstandar internasional yang mengajarkan Bahasa Inggris sejak kelas 1 SD.

¶  Middle immersion

Pada program middle immersion, murid-murid/anak-anak memulai pembelajaran bahasa kedua sejak umur sembilan atau sepuluh tahun. Di Indonesia, program middle immersion diterapkan di beberapa sekolah yang mengajarkan Bahasa Inggris sejak kelas 4 SD.

¶  Late immersion

Pada program late immersion, murid-murid/anak-anak memulai pembelajaran bahasa kedua antara umur sebelas sampai empat belas tahun. Di Indonesia, program late immersion diterapkan di beberapa sekolah daerah yang baru mulai mengajarkan Bahasa Inggris sejak kelas 1 SMP.

B. Jenis-Jenis Immersion Programs Berdasarkan Tingkatan Immersion

µ  Total immersion

Pada program total immersion, hampir 100% waktu di kelas dihabiskan dengan bahasa asing atau bahasa kedua. Bahan pelajaran diajarkan dalam bahasa asing dan pembelajaran bahasa asing sesuai kebutuhan melalui kurikulum. Tujuannya adalah menjadi ahli secara fungsional dalam bahasa asing, untuk pelajaran inti diajarkan dalam bahasa asing, dan untuk menyerap sebuah pengertian dan apresiasi terhadap budaya lain. Tipe ini umumnya berurutan, kumulatif, berkelanjutan, berorientasi keahlian, dan bagian dari urutan tingkatan sekolah. Walaupun program ini bernama total immersion, bahasa dari kurikulum dapat saja kembali ke bahasa asli para murid setelah beberapa tahun.

µ  Partial immersion

Pada program partial immersion (separuh immersion), sekitar setengah waktu di kelas dihabiskan untuk belajar bahan ajaran dalam bahasa asing. Tujuannya sama dengan total immersion meskipun keahlian berbahasa asing lebih rendah daripada total immersion.

µ  Two-way immersion

Pada program two-way immersion yang disebut juga dual atau bilingual immersion, populasi murid terdiri dari pengguna dua atau lebih bahasa. Idealnya, separuh kelas terdiri dari pembicara asli dari bahasa mayoritas di daerah tersebut (misalnya bahasa Indonesia di Indonesia, bahasa Melayu-Malaysia di Malaysia) dan separuh lainnya pengguna bahasa kedua. Waktu belajar mengajar terbagi menjadi separuh dan diajarkan dalam bahasa mayoritas dan bahasa target. Melalui cara ini, murid-murid saling mendorong dan mengajari satu sama lain dan akhirnya semua menjadi bilingual. Tujuannya sama dengan program-program sebelumnya. Perbandingan yang berbeda pada bahasa target dengan bahasa asli dapat terjadi, perbandingannya tidak selalu 1:1.

µ  Content-based FLES

Pada program content-based FLES (Foreign Languages in Elementary Schools), sekitar 15-50% waktu belajar digunakan dengan bahasa asing dan untuk mempelajari bahasa tersebut sebaik mempelajari bahan pelajaran dengan bahasa asing tersebut. Tujuannya untuk memperoleh keahlian dalam mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing) bahasa asing; untuk menggunakan isi subjek sebagai sarana untuk menyerap keterampilan bahasa asing; dan untuk memperoleh pemahaman dan apresiasi terhadap budaya lain.

µ  FLES

Pada program FLES, 5-15% waktu belajar digunakan dalam bahasa asing dan untuk mempelajari bahasa itu sendiri. Program ini mengambil minimal 75 menit dalam seminggu, sedikitnya setiap hari-hari tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh keahlian dalam mendengarkan dan berbicara (tingkatan keahlian bervariasi tergantung program); untuk mendapat pemahaman dan apresiasi terhadap budaya lain; dan untuk mendapat sedikit keahlian dalam membaca dan menulis.

µ  FLEX

Pada program FLEX (Foreign Language Experience), sedikit sesi (yang berkala maupun tidak) digunakan dalam bahasa kedua. Kegiatan belajar mengajar hampir selalu menggunakan bahasa asli. Hanya satu hingga lima persen waktu yang digunakan untuk contoh dan mempelajari satu atau lebih bahasa asing. Tujuannya adalah untuk mengembangkan ketertarikan terhadap bahasa asing demi pembelajaran bahasa di masa depan; untuk mengembangkan keterampilan kehati-hatian mendengarkan; untuk mengembangkan kesadaran budaya; dan untuk mengembangkan kesadaran linguistik. Tipe program ini umumnya tidak berkelanjutan.

IV. Language Immersion pada Usia Dini; Alasan, Keuntungan, dan Tantangan

Sekolah-sekolah negeri di Indonesia umumnya tidak menggunakan metode total immersion dalam pengajaran bahasa Inggris. Tetapi, kini mulai bermunculan program-program yang ditawarkan lembaga pendidikan lain untuk meningkatkan keahlian anak-anak di Indonesia dalam berbahasa asing. Immersion programs yang diterapkan oleh lembaga-lembaga tersebut ternyata tidak sedikit perannya dalam membantu kemajuan keterampilan bilingual anak-anak sehingga semakin lama semakin banyak lembaga-lembaga serupa yang bermunculan. Hal ini tidak terlepas dari keinginan para orang tua yang menginginkan anaknya terampil menggunakan bahasa asing sejak usia dini. Usia dini yang dimaksud adalah usia anak dibawah lima tahun.

Ketika para orang tua berlomba-lomba mendidik anaknya dengan dua bahasa (umumnya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional), muncul satu pertanyaan sebagai tanggapan terhadap kecenderungan pengajaran bahasa Inggris pada anak-anak. “Sudah perlukah bahasa Inggris diajarkan pada anak-anak?” Jawabannya dapat sangat sederhana, “belum” atau “sudah”. Tetapi, dapat juga menimbulkan jawaban yang memerlukan penjelasan panjang lebar. Bahkan, jawaban yang sederhana pun dapat memunculkan kontroversi yang berkepanjangan.

Menurut sebuah artikel tanpa nama penulis (Anonim 2008), setidaknya ada tiga alasan mengapa anak-anak perlu mempelajari bahasa Inggris pada usia dini. Berikut penjabaran dari ketiga alasan tersebut :

  1. Alasan pertama adalah tuntutan pragmatis. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini tembok pembatas geografis antar wilayah atau bahkan antara negara sudah mulai runtuh akibat gelombang globalisasi. Dampak yang segera kita amati dengan runtuhnya tembok pembatas tersebut ialah semakin mudah dan semakin murahnya satu individu, bahkan antar bangsa, di tempat yang berbeda dan berada di belahan dunia yang lain berhubungan dengan individu lainnya pada waktu yang sesungguhnya (real time). Agar dapat berkompetisi global diperlukan sumber daya manusia yang tangguh. Satu piranti komunikasi yang berperan penting dan diperlukan untuk berkompetesi global adalah penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Untuk itulah penyiapan sumber daya manusia Indonesia perlu dilakukan secara dini.
  1. Alasan kedua merujuk pada alasan undang-undang dan kesepakatan internasional.

~  Undang Undang Dasar 1945 memberikan amanat kepada Pemerintah untuk ’mencerdaskan kehidupan bangsa’.

~  UU No 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran guna pengembangan kepribadiannya dan kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

~  Pada tatataran lebih operasional lagi dinyatakan bahwa bahasa Inggris dapat diajarkan di jenjang sekolah dasar pada anak-anak sabagai muatan lokal.

~  Pada United Nation General Assembly Special Session on Children di New York tahun 2002 lahir deklarasi berisi komitmen untuk mensejehterakan anak yang dikenal sebagai ’A World Fit for Children’ (WFC), yang salah satu butirnya adalah penyediaan pendidikan anak yang berkualitas.

  1. Alasan yang ketiga adalah konspetual. Ada seorang tokoh yang berpendapat bahwa tidak ada alasan kuat dalam pembelajaran anak-anak untuk tidak mengajarkan bahasa kedua pada mereka. Ada tiga faktor yang mendasari hal tersebut, yaitu :
    1. Proses pematangan (maturation) nampaknya lebih berpihak pada pembelajar bahasa usia muda. Semakin muda seorang anak belajar bahasa, semakin mudah ia akan menguasai bahasa tersebut.
    2. Faktor emosi dan perasaan berperan penting pada anak-anak dalam mempelajari bahasa. Beberapa faktor yang terkait dengan faktor afektif dalam pembelajaran bahasa adalah kepercayaan diri (self-esteem), larangan (inhibition), pengambil risiko (risk-taking), minat yang besar (anxiety), empati (emphaty), dan motivasi (motivation). Pada faktor-faktor tersebut anak-anak cenderung memiliki nilai yang lebih positif dibanding pembelajar dewasa. Misalnya, anak-anak tidak memiliki beban mental yang berlebihan saat mempelajari bahasa asing, ketakutan membuat kesalahan rendah, dan siswa memiliki keinginan yang lebih baik untuk mempelajari hal-hal baru lewat bahasa asing.
    3. Faktor ketiga adalah lingkungan. Anak-anak cenderung memiliki peluang yang lebih baik dalam menghubungkan kebutuhan komunikasi yang sesungguhnya dengan pengalaman kebahasaan barunya. Oleh karena itu, kebutuhan berkomunikasi anak-anak dengan menggunakan bahasa dalam lingkungan sekitarnya lebih terakomodasi secara luas dan alami.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran dua bahasa (Inggris dan Indonesia pada anak Indonesia khususnya), yaitu:

v   Keuntungan pertama berhubungan dengan perkembangan intelektualnya. Menurut kajian seorang ahli, anak yang mempelajari bahasa asing pada usia dini memiliki keunggulan baik dari segi kebahasaan maupun non kebahasaan. Mereka cenderung lebih memiliki keluwesan mental, keunggulan dalam pembentukan konsep-konsep atas gejala alam di sekelilingnya, dan memiliki kemampuan mental yang lebih beragam. Dengan belajar bahasa asing lebih awal, anak lebih mengenal dunia yang lebih luas dan memiliki kemampuan konseptual dalam memaknai lingkungan sekitarnya melalui bahasa. Stimulasi awal pada usia perkembangan anak melalui pembelajaran bahasa akan memberikan keuntungan dalam perkembangan bernalarnya.

v   Anak akan memiliki kesadaran sistem bahasa sebagai suatu gejala sosial. Ia akan lebih mampu memahami sistem bahasa ibunya.

v   Anak-anak yang belajar bahasa asing lebih awal akan memiliki pandangan budaya yang lebih luas, dan ini menguntungkan karena ia akan mampu mengembangkan sikap toleransi terhadap budaya lain yang berbeda.

Selain segi positif dengan pembelajaran bahasa asing pada anak-anak, ada beberapa tantangan yang nampaknya perlu diwaspadai. Pertama adalah masalah keberlanjutan, utamanya pada saat alih jenjang pendidikan yaitu dari kelompok bermain atau taman kanak-kanak ke sekolah dasar dan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama. Aspek keberlanjutan ini dapat berkaitant dengan materi pembelajaran maupun dengan penggunaan strategi penyajian materi. Bila terjadi pengulangan-pengulangan yang tidak perlu serta ketidaktepatan strategi penyajian materi pada jenjang yang berbeda, akan berpotensi menurunkan minat dan motivasi belajar siswa pada jenjang berikutnya.

Tantangan lain ialah muatan kurikulum yang bertambah berarti beban belajar siswa menjadi bertambah demikian pula beban mengajar guru, khususnya untuk guru kelas. Selain itu, keuntungan pembelajaran bahasa pada usia dini terkait dengan budaya hanya akan dapat dicapai bila lingkungan pembelajaran bahasa asing yang dialami anak benar-benar mendukung terhadap pencapaian hasil belajar yang optimal. Bila tidak, anak justru dapat memiliki sikap yang salah terhadap bahasa asing. Selain berdampak negatif terdahap perkembangan personalnya, situasi pembelajaran bahasa asing pada anak usia dini yang tidak menguntungkan juga berpotensi menghambat pengajaran bahasa asing pada tahap-tahap selanjutnya.

V. Optimalisasi Language Immersion

Sudah menjadi pengetahuan umum jika ingin fasih berbicara aneka bahasa kita harus belajar bahasa sejak usia dini. Tapi, sebuah penelitian terakhir mengemukakan bahwa belajar bahasa pada usia belia dapat pula membawa dampak negatif. Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Archives of Disease in Childhoodpada akhir 2008 lalu menyebutkan bahwa anak yang bicara dalam 2 bahasa sebelum memasuki usia 5 tahun menanggung risiko yang lebih besar untuk menjadi gagap dibandingkan anak sebayanya yang hanya bicara dalam satu bahasa (Escobar 2009). Riset yang dipimpin oleh Psikolog Peter Howell dan University College London (UCL) itu mengambil 317 anak berusia antara 8 hingga 10 yang telah diperiksakan ke dokter dengan keluhan gagap. Satu dari lima anak bicara dalam bahasa Inggris serta bahasa lainnya dirumah. Hampir separuh dari anak yang berbicara dalam 2 bahasa menderita gagap. Anak laki-laki lebih banyak dibanding anak perempuan dengan perbandingan 4:1. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua immersion programs dapat memberikan hasil yang optimal bahkan justru menimbulkan kerugian bagi anak-anak.

Sebelum anak dapat diajarkan bahasa asing, ia perlu menguasai dulu bahasa ibunya dengan baik. Hal ini mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal. Anak-anak yang menguasai bahasa ibu dengan sangat baik, akan memiliki fondasi yang kuat untuk belajar bahasa asing sehingga nantinya mampu menguasainya dengan mudah (Anonim 2009b). Dengan menguasai bahasa ibu/bahasa asli terlebih dahulu, anak akan terhindar dari resiko mengalami kesulitan belajar atau masalah-masalah lainnya akibat ketidaksiapan belajar bahasa asing.

Jika ingin mengajarkan bahasa asing sejak dini kepada anak, orang tua perlu merencanakan dan mempersiapkan diri sendiri pula. Jika merencanakan akan menyekolahkan anak ke sekolah bilingual, maka bantulah anak di rumah dengan cara membiasakannya berkomunikasi dalam bahasa asing. Jadi, orang tua juga harus menguasai bahasa asing tersebut dengan baik, sehingga bisa menyediakan lingkungan yang konsisten antara di rumah dan di sekolah. Jika tidak, perkembangan kecerdasan linguistik (kecerdasan berbahasa) anak justru bisa terhambat dan akan mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Memang, kemampuan otak seorang anak kecil memungkinkan mereka belajar banyak hal termasuk bahasa. Namun, inti dari mengajarkan segala sesuatu kepada anak adalah tidak boleh ada paksaan. Apabila memang bahasa asing akan diperkenalkan kepada anak-anak usia dini, kesan bahwa pelajaran bahasa Inggris sebagai sekedar tambahan terhadap mata pelajaran inti, atau adanya motivasi yang lain seperti keperluan promosi, sejauh mungkin diminimalkan. Ada cara yang lebih metodologis untuk mengatasi tantangan terkait dengan membengkaknya kurikulum ini, yaitu misalnya mengintegrasikan pengajaran bahasa Inggris dengan bidang studi.

Menurut para ahli, masa paling ideal untuk mempelajari bahasa lain selain bahasa ibu adalah usia 6 – 12 tahun. Pada saat itu daya pikir anak berada dalam kondisi sangat plastis, sehingga kemampuan penyerapan bahasanya berfungsi otomatis. Hal ini diharapkan akan membantu mencegah risiko anak mengalami kesulitan belajar atau masalah-masalah lainnya akibat ketidaksiapan belajar bahasa asing. Semua hal tersebut membuktikan bahwa immersion programs baru layak diterapkan di antara usia 5 sampai 12 tahun, dapat berupa early immersion atau middle immersion.

DAFTAR REFERENSI

[Anonim]. 2008. Pembelajaran bilingual pada pendidikan anak usia dini. http://guruenglish.wordpress.com (18 Desember 2009).

[Anonim]. 2009a. Language immersion. http://en.wikipedia.org (18 Desember 2009).

[Anonim]. 2009b. Mau anak bilingual, kuasai dulu bahasa ibu. http://hariansumutpos.com (18 Desember 2009).

Escobar Franco. 2009. Anak bilingual cenderung gagap. http://franco-escobar.co.cc (18 Desember 2009).